Sistem Pendidikan di Singapura

Sistem Pendidikan di Singapura

Sistem Pendidikan di Singapura – Kurikulum pendidikan Singapura terbukti tidak berbeda jauh dari kurikulum pendidikan di Indonesia. Mereka juga menyelenggarakan ujian nasional atau yang acap kali disebut UN bagi seluruh siswa setiap akan melanjutkan pendidikan ke tingkatan selanjutnya. Bedanya, tingkatan Sistem Pendidikan di Singapura itu agak belibet.

Sistem Pendidikan di Singapura

di Singapura masuk ke dunia pendidikan formal mulai dari tingkat TK(Kindergarter School) lanjut ke SD (primary school) selama 6 tahun. Sesudah itu mereka masuk SMP-SMA (secondary school) selama 5 tahun, lalu ke tingkat persiapan menuju kuliah (centralised institute atau junior colleges) 3 tahun, baru masuk universitas (university).

Akan namun, lama seseorang mengatasi pendidikan di setiap tingkatan setelah SD itu berbeda- beda. Sebab setiap anak dimasukkan ke kelas layak dengan kemampuan masing-masing, ada 3 kelas di tingkatan secondary school, antara lain Express, Normal Academic dan Normal Technical.

Kelas Express yakni daerah UNTUK siswa pintar.Bagi anak-anak kelas Express, mereka bisa mengatasi secondary school selama 4 tahun. Ini juga jikalau mereka lulus ”O” Level Test Singapura.

Kelas Normal Academic, sebelum mereka masuk ke kelas 5, pada tahun ke-4 patut mengerjakanujian nasional ”N” tingkatan percobaan supaya bisa naik kelas. Sesudah mereka via kelas 5, ada ujian nasional lagi yang namanya ”O” Level Test.

Kelas Normal Technical, bisa disamakan dengan SMK. Jadi, setelah mereka lulus secondary school, mereka bisa melanjutkan ke Institute of Technical Education selama dua tahun, atau sekolah lanjutan untuk mereka yang berkeinginan melanjutkan ke tingkatan pendidikan yang lebih tinggi, Polytechnic (untuk mendapatkan diploma), langsung kerja.

Pelajaran yang mereka bisa juga tidak banyak berbeda di Indonesia, seumpama Bahasa Inggris, Matematika, IPA, IPS, Seni, juga pelajaran yang namanya Mother Tongue Language atau pelajaran bahasa layak bahasa ”ibu” mereka. Seumpama, mereka yang orang Melayu akan mempelajari bahasa Malay, bagi mereka yang Chinese bisa belajar bahasa Mandarin, mereka yang berasal dari India akan mempelajari bahasa Tamil. Hampir seluruh mata pelajaran itu diujikan dalam ”O” Level Test atau UN versi Singapura.

Ujian Nasional versi Singapura

”O” Level Test, ini nama UN untuk secondary school. ”O” Level Test yakni kependekan dari Ordinary Level Test. Bedanya dengan UN kita, UN mereka tidak mempertimbangkan kelulusan seseorang sebab, berdasarkan Pemerintah Singapura, setiap orang punya kesempatan sama untuk melanjutkan pendidikan.

Jadi, untuk pelajar yang telah duduk di kelas 4 Express ataupun yang di kelas 5 Normal Academic telah patut mengikuti ”O” Level Test untuk lulus dari secondary school. Dalam ”O” Level Test ada tujuh pelajaran yang patut ditiru : lima mata pelajaran pokok dan dua mata pelajaran pilihan. Kelima pelajaran pokok itu yakni English, Mother Tongue, Matematika, IPA (Biologi, Kimia, Fisika), IPS (Sejarah, Sosiologi, Geografi), serta dua mata pelajaran, pilihan dari Food and Nutrition, IT, dan Design and Technology. Seluruh pelajaran hal yang demikian punya nilai minimum. Meskipun mereka yang tidak bisa mendapatkan nilai minimum, konsisten lulus. Tapi, di ijazah mereka akan ada nilai merah. Sekiranya mereka tidak berkeinginan di ijazahnya ada nilai merah, mereka boleh mengulang satu tahun di kelas yang sama.

Sesudah Secondary School Masih ada satu lagi tingkatan sebelum mereka masuk ke universitas, yakni Centralised Institute atau Junior Colleges (tertiary education, persiapan menuju tingkat universitas). Tapi, untuk mereka yang punya nilai baik (nilai 1 hingga 14) bisa langsung ke Junior College yang lamanya dua tahun.

Sekiranya mereka tidak mempunyai nilai dari nilai yang disebutkan itu, mereka melanjutkan ke Centralised Institute yang waktunya lebih lama, yakni tiga tahun. Sesudah itu mereka patut via ujian nasional yang namanya ”A” Level Test atau Advanced Level Test. Tes yang diberikan tentu saja lebih sulit, sebab akan masuk ke Universitas. Tapi, dengan banyaknya percobaan yang dilalui, tentulah universitas di Singapura bisa mendapatkan calon mahasiswa yang berkualitas. Sebab pemfilteran mahasiswa secara tidak langsung dikerjakan via sejumlah percobaan-percobaan hal yang demikian. Soal-soal yang ada dalam setiap percobaan dijadikan oleh Universitas Cambridge. Jadi, ijazah yang mereka temukan bertaraf internasional yang bisa digunakan untuk melanjutkan kuliah di mana saja, di seluruh dunia

STRATEGI PENDIDIKAN DI SINGAPURA

Singapura mengaku tidak mempunyai formula spesifik yang bisa mewujudkan sebuah kesuksesan bagi sektor pendidikan sebab hal hal yang demikian cuma bisa diraih berdasarkan berbagai upaya rentang panjang yang berkelanjutan.

Singapura mempunyai tiga fase dalam mengoptimalkan taktik ipteknya, yakni:

Fase transfer pengetahuan dari luar negeri (1970 hingga 1980-an)

Fase pembangunan landasan riset dan pengembangan (1990-an) antara lain dengan mendirikan Dewan Teknologi dan Sains Nasional pada 1991.


Fase terakhir yang dimulai pada 2000 hingga kini yakni mewujudkan pengetahuan baru bagi industri dengan cara mengoptimalkan relasi antara perguruan tinggi, lembaga riset, dan industri.


Eks Menteri Pendidikan mengatakan Singapura juga memaparkan perihal tiga tahap dari pengembangan sektor pendidikan di negaranya.

Tahap pertama pada 1959-1978 ditandai dengan mewujudkan cara pendidikan nasional yang seragam dan memprioritaskan pendidikan massal untuk seluruh warga. Keseragaman pendidikan diperlukan sebab ketika itu di Singapura terdapat empat ragam sekolah lazim (sekolah Inggris, China, Melayu, dan Tamil) yang masing-masing memakai kurikulum dan etos pendidikan yang berbeda.
Tahap kedua pada 1979-1966 didukung oleh efisiensi dengan mulai memberikan otonomi terhadap sekolah untuk mengoptimalkan kurikulum yang berbeda untuk kemampuan yang berbeda, serta mengoptimalkan sektor politeknik dan universitas.
Tahap ketiga pada 1997 hingga kini berfokus lebih banyak pada kualitas dibandingkan kuantitas dengan memakai kebijakan desentralisasi dan keragaman. Sekolah bisa membikin dan mengoptimalkan kurikulum sendiri, serta mereka mempunyai fleksibilitas lebih dalam membikin kebijakan perihal kriteria penyeleksian siswa

KEUNGGULAN DAN KEKURANGAN PENDIDIKAN DI SINGAPURA

Dari sekolah Dasar hingga Universitas, siswa telah dipantau dan diberi nasihat untuk mendapatkan pendidikan yang layak untuknya atau layak dengan ketertarikan bakatnya.
Singapura tidak menyamaratakan bahwa seluruh warga pasti kapabel sekolah di Singapura relatif murah.
Untuk keluarga yang tidak kapabel, pemerintah menyediakan beasiswa jikalau perlu. Itu disediakan untuk mempertimbangkan bahwa kemiskinan bukan hambatan untuk mengenyam pendidikan.
Mobil bukan persoalan bagi kebanyakan warga di Singapura, untuk kelancaran transportasi anak-buah hatinya tersedia berbagai mode transportasi, mulai dari MRT (Mass Rapid Transit), dipadu dengan rangkaian bus kota yang mempunyai akses ke seluruh sekolah.
Ruang kelas dibenahi secara bersih dan membikin murid/mahasiswa (i) bisa memandang guru atau dosen dan sebaliknya dosen atau guru bisa memantau seluruh anak didiknya.
Akses dunia online hingga ke ruang-ruang kelas juga tersedia dan tidak dipungut bayaran cuma dengan mendaftar untuk mendapatkan ID dari sekolah dan U
Alumnus Sekolah / Universitas Singapore diakui terbaik oleh Negara Timur ataupun Barat.
Seluruh bahan kuliah bisa diunduh dari dunia online dalam wujud PDF. Siswa akan diberikan passworduntuk mata kuliah yang diambilnya.
Ruang laboratorium dibuka 24 jam dengan fasilitas komputer yang baik. Akses masuk dikerjakan dengan kartu dan kata kunci.
Di Singapura cara pendidikan secara lazim berorientasi pada pengembangan sumber daya manusia layak dengan kebutuhan, dalam upaya memenuhi dunia kerja yang pintar dan berpendidikan. Selain itu juga berorientasi supaya terdapat keseimbangan dari segi sopan santun dan kebiasaan dalam menghadapi perubahan dan kemajuan yang terjadi. Silabus pendidikan dasar dan menengah dibatasi secara nasional oleh Curriculum Planning & Development Division, Ministry of Education. Institusi ini berwenang dalam mempertimbangkan tiga hal dasar yang menyangkut keterampilan berdaya upaya, teknologi info, dan pendidikan nasional.

Seumpama yang masih acap kali dikeluhkan dalam cara pendidikan di Singaura yakni kurangnya kebebasan berekspresi untuk mahasiswanya. Keberadaan yakni, jikalau mahasiswa Indonesia terkenal menyenangi menggelar demonstrasi dan malah hingga kapabel menggulingkan sebuah rejim pemerintahan, mahasiswa Singapura cenderung apolitis. Mereka tidak terlibat dan tidak menyenangi terlbat dalam urusan politik. Mereka lebih banyak fokus pada belajar di kelas. Seumpama ini bisa jadi beranjak dari cara pemerintahan Singapura yang cenderung otoriter.

Di Singapura ada yang namanya Internal Security Act (ISA) atau Undang-Undang Keamanan Dalam Negeri yang bisa menahan orang tanpa pengerjaan pengadilan. Akhirnya undang-undang ini menjadi salah satu penyebab mengapa kegiatan politik yang berseberangan dengan pemerintah cenderung sedikit atau malah jarang terjadi. Partai oposisi cuma mempunyai kurang dari tiga bangku di parlemen. Belum lagi kondisi ekonomi negara yang sungguh-sungguh mapan mewujudkan masyarakat Singapura, dan juga mahasiswanya cenderung merasa puas dengan pemerintahan kini.

Segi negatif dari hal di atas yakni berkurangnya sosialisasi dari para pelajar. Tidak ada lagi pelajar nongkrong-nongkrong seperti di Indonesia. Cuma interaksi sosial antar pelajar berkurang dan mewujudkan para siswa singapura seperti robot yang cuma memikirkan profesi pribadinya saja. Tidak ada lagi tenggang rasa antara sesama siswa. Seumpama yang terjadi yakni “belajar, pulang, dan lulus secepat mungkin dengan nilai baik”. itu.

Kekurangan lainnya yakni Durasi waktu pendidikan yang ditempuh siswa relatif terlalu lama, seperti pada tingkatan Kindergartens yang berdurasi selama 3 tahun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *