Dasar Pendidikan di Indonesia 

Dasar Pendidikan di Indonesia 

Pendidikan adalah proses pembelajaran kepada individu atau peserta didik agar dapat memiliki pemahaman terhadap sesuatu dan membuatnya menjadi seorang manusia yang kritis dalam berpikir.

Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman.

Fungsi pendidikan adalah untuk mengembangkan kemampuan, membentuk watak, kepribadian, agar peserta didik menjadi pribadi yang bermartabat. Mempersiapkan setiap anggota masyarakat untuk dapat mencari nafkah sendiri. Membangun minat dan bakat seseorang untuk kepuasan pribadi dan kepentingan masyarakat umum.

Baca juga Peran Guru Dalam Motivasi Belajar Siswa

Tujuan pendidikan menurut UU No. 2 Tahun 1985 adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia yang seutuhnya, yaitu bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, memiliki pengetahuan, sehat jasmani dan rohani, memiliki budi pekerti luhur, mandiri, kepribadian yang mantap, dan bertanggung jawab terhadap bangsa.

Unsur-unsur pendidikan terdiri dari peserta didik, pendidik, interaksi edukatif antara peserta didik dan pendidik, materi/ isi pendidikan (kurikulum), konteks yang mempengaruhi pendidikan, alat dan metode, perbuatan pendidik, dan evaluasi dan tujuan pendidikan.

“beli-belah” Di Sekolah

“beli-belah” Di Sekolah

 

"beli-belah" Di Sekolah

Sebaik melangkah ke tingkat tiga bangunan Blok D, Sekolah Kebangsaan (SK) Seri Indra, di sini, pasti timbul persoalan mengenai papan petunjuk ‘Seri Indra Mall’ yang kelihatan seperti ‘pusat membeli-belah’ di dalam sekolah itu.

Sebenarnya, Seri Indra Mall yakni satu konsep yang cuba diketengahkan oleh pentadbiran sekolah berkenaan untuk mewujudkan suasana selesa, santai dan kondusif kepada murid terlebih bagi menyahut era pelajaran abad ke-21.

Pun, tiap bilik kelas yang merangkumi makmal komputer, bilik penyimpanan buku teks, bilik muzik, pusat sumber sekolah dan berjenis-jenis lagi bilik dan sebahagian di tingkat empat bangunan itu ditransformasikan menjadi 12 ruangan atau ‘premis’ seperti dalam pusat membeli-belah.

Kesemua bilik kelas ini dijenamakan semula seperti Sindra Book Spa, Sindra Lounge, Sindra Lollipop Shop, Sindra Lens, Sindra Think Space, Sindra D’Chamber, Sindra Flip, Sindra Golden Cinema, Sindra Nature Park, Sindra La Secret, Sindra Cyber Space dan Sindra Da Capo.

Setiap ‘premis’ ini mempunyai fungsi dalam pelajaran dan pembangunan intelek serta kemahiran murid di sekolah itu.

Guru Besar SK Seri Indra, Nor Sharmila Shaari, berkata Seri Indra Mall diwujudkan bertujuan untuk menampilkan ciri kebitaraan atau keunikan diri murid yang tidak hanya bertumpu kepada akademik melainkan dalam bidang kemahiran lain.

Seri Indra Mall diwujudkan bertujuan untuk menampilkan keunikan diri murid yang tidak hanya bertumpu kepada akademik melainkan juga dalam bidang kemahiran lain.


Seri Indra Mall diwujudkan bertujuan untuk menampilkan keunikan diri murid yang tidak hanya bertumpu kepada akademik melainkan juga dalam bidang kemahiran lain.


“Seri Indra Mall ini dibangunkan sekitar tahun lalu di mana kita mentransformasikan pusat sumber sekolah serta beberapa bilik kelas menjadi satu ruangan atau ‘premis’ yang sama seperti terdapat dalam pusat beli-belah.

“Kita mengaplikasikan nama singkatan Sindra yang diambil dari nama sekolah ini Seri Indra dan tiap ‘premis’ ini mempunyai fungsi tersendiri sekali gus menyediakan murid untuk meneroka kepakaran dan ketertarikan mereka.

“Ini karena kita tahu pelajaran pada masa kini tidak sama seperti dulu. Meski ada murid yang tidak terampil dalam akademik, mereka mempunyai kemahiran seperti melukis, mengacara, mengambil foto dan video, berdendang dan bermain alat muzik,” katanya yang menerajui sekolah itu semenjak 16 Disember 2020 lalu.

 

Beliau berkata, sebagai model, apabila dulu pusat sumber sekolah atau perpustakaan dipandang sebagai satu daerah yang membosankan, melainkan kini diubah konsep dan pemikiran.

Menurutnya, pihaknya kemudian menjenamakan pusat sumber sebagai Sindra Book Spa yang mempunyai himpunan buku dan aktiviti interaktif.

Katanya, idea untuk mewujudkan Seri Indra Mall ini berawal daripada saranan Pengarah Pengajaran Negeri Perlis, Naharudeen Othman yang mahu satu perubahan atau ‘redesign dalam suasana pelajaran murid di alaf ke-21.

 

Baca Juga Pengunjung pusat beli-belah mula bertambah

Peran Guru dalam Motivasi Belajar Siswa

Peran Guru dalam Motivasi Belajar Siswa

Guru merupakan ujung tombak dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Terutama dalam memberikan motivasi kepada siswa sehingga mampu meningkatkan kualitas pendidikan demi mencerdarkan kehidupan bangsa. Peranan guru menjadi motif daya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu guru perlu menumbuhkan motivasi belajar peserta didik untuk memperoleh hasil belajar yang optimal demi tercapainya suatu tujuan tertentu.

Pentingnya Motivasi Belajar 

Kata motif sering diartikan sebagai daya dalam diri seseorang untuk melakuklan sesuatu. Motif adalah sebab yang menjadi dorongan tindakan seseorang. Motif diartikan sebagai daya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Motif dapat dikatakan sebagai daya penggerak dari dalam diri subyek untuk melakukan aktivitsaktivitas tertentu demi mecapai suatu tujuan. Bahkan motif dapat diartikan sebagai kondisi intern. (kesiapsiagaan), berawal dari kata motif itu, makaka motivasi dapat diartikan sebagai daya penggerak yang telah menjadi aktif. Motif menjadi aktif pada saat tertentu, terutama bila kebutuhan untuk mencapai tujuan dapat dirasakan/mendesak (sardiman, 2004). Motivasi dipandang sebagai dorongan mental yang menggerakkan dan mengarahkan prilaku manusia termasuk prilaku belajar. Dalam motivasi terkandung adanya keinginan, harapan, tujuan, sasaran, dan insentif. Keadaan inilah yang mengaktifkan, menggerakkan, menyalurkan, dan mengarahkan sikap dan prilaku individu belajar (dimyati dan Mudjono, 1994). Motivasi merupakan kekuatan yang mendorong manusia untuk melakukan sesuatu dalam mencapai tujuan. Hal tersebut, terlaksana karena dirangsang dari berbagai macam kebutuhan atau keinginan yang hendak dipenuhi. Komponen utama motivasi, yaitu:

a) kebutuhan,

b) perilaku/dorongan, dan

c) tujuan.

Untuk mewujudkan terjadinya belajar, motivasi mempunyai kedudukan yang Sangat penting artinya bagi peserta didik, diantaranya adalah memperbesar semangat belajar. Ali (1983: 14) mengemukakan bahwa belajar adalah “proses perubahan perilaku, akibat interaksi individu dengan lingkungan”. Menurut Sardiman (1986:22) “Belajar dalam arti luas, dapat diartikan sebagai kegiatan psiko-fisik menunjukkan perkembangan pribadi seutuhnya”. Disini dapat dilihat bahwa belajar merupakan sarana pengembangan pribadi dari individu yang melakukannya. Lebih lanjut Sardiman (1986:22) juga mendefinisikan belajar dalam arti sempit yaitu “Belajar dimaksudkan sebagai usaha penguasaan materi ilmu pengetahuan yang merupakan sebagai kegiatan menuju terbentuknya kepribadian seutuhnya”. Dari pendefinisian tersebut, dapat diartikan bahwa belajar adalah suatu usaha pengembangan diri. Menurut Sahabuddin (2007: 131-134) bahwa prinsip-prinsip belajar meliputi:

1) Pernyataan tujuan yang jelas,

2) Menjelaskan mengenai bagaimana belajar,

3) Perbuatan yang diharapkan dari siswa,

4) Tinjauan menyeluruh tentang materi yang dipelajari,

5) Mengoptimalkan tugas-tugas belajar,

6) Tinjauan berkala,

7) Aktif Belajar,

8) Alasan mempelajari keterampilan dan informasi,

9) aplikasi materi yang telah dipelajari,

10) motivasi intrinsik, ekstrinsik dan insentif,

11) mengajarkan kepada orang lain,

12) menggunakan pelajaran yang terorganisasi baik,

13) menggunakan prinsip lanjutan dan kaitan. Belajar adalah semua upaya manusia atau individu memobilisasikan (menggerakkan, mengerahkan dan mengarahkan semua sumber daya manusia yang dimilikinya (fisik, mental, Intelektual, Emosional dan Sosial) untuk memberikan jawaban (respons) yang tepat terhadap problema yang dihadapinya. Dalam proses balajar haruslah diperhatikan prinsip belajar. Karena proses belajar memang kompleks tetapi dianalisis dan diperinci dalam bentuk prinsip-prinsip atau asas-asas belajar. Hal ini perlu diketahui agar kita memiliki pedoman dalam belajar secara efisien. Prinsipprinsip tersebut antara lain:

1. Belajar adalah suatu proses aktif dimana terjadi hubungan saling mempengaruhi secara dinamis antara siswa dengan lingkungan.

2. Belajar senantiasa harus bertujuan, terarah dan jelas bagi siswa. Tujuan akan menuntunnya dalam belajar untuk mencapai harapan-harapannya.

3. Belajar paling efektif apabila didasari oleh dorongan motivasi yang murni dan bersumber dari dalam diri sendiri. Belajar adalah istilah kunci yang paling vital dalam setiap usaha pendidikan sehingga tanpa belajar sesungguhnya tidak pernah ada pendidikan. Sebagai suatu proses belajar hampir selalu mendapat tempat yang luas dari berbagai disiplin ilmu yang berkaitan dengan upaya pendidikan. Belajar diarahkan untuk tercapainya pemahaman yang lebuh luas dan mendalam mengenai proses perubahan manusia itu. Berkembang lebih jauh dari mahluk yang lainnya sehingga boleh jadi karena kemampuan berkembang melalui belajar itulah manusia secara bebas mengeksplorasi, memilih dan menetapkan keputusan-keputusan penting untuk kehidupannya. Perubahan dan kemampuan untuk berubah merupakan batasan dan makna yang terkandung dalam belajar. Karena belajarkah maka manusia dapat Belajar adalah sesuatu kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Kegiatan belajar dapat berlangsung di mana-mana, misalnya di lingkungan keluarga, di sekolah dan di masyarakat, baik disadari maupun tidak, disengaja atau tidak. Belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang. Perubahan sebagai hasil dari proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti berubah pengetahuan, pemahaman, sikap dan tingkah laku, keterampilan, kecakapan, kebiasaan serta perubahan aspek-aspek lain yang ada pada individu yang belajar. Hakikat belajar dan mengajar yang lebih progresif berbeda dengan hakikat belajar dan mengajar dengan pola tradisional. Pada pola tradisional, kegiatan mengajar lebih diarahkan pada aliran informasi dari guru ke siswa. Pandangan ini mendorong guru untuk memerankan diri sebagai tukang ajar. Artinya apabila guru mengajar ia lebih mempersiapkan dirinya supaya berhasil dalam menyampaikan serta menuntaskan/menyelesaikan semua materi pelajaran sesuai dengan waktu yang disediakan. Pada pola progresif makna belajar diartikan sebagai pembangunan gagasan pengetahuan oleh siswa sendiri selain peningkatan ketrampilan dan pengembangan sikap positif. Belajar secara essensial merupakan proses yang bermakna, bukan sesuatu yang berlangsung secara mekanis dan tidak sekedar rutinitas. Belajar harus baik dan menyenangkan sehingga kesannya menjadi penuh bermakna. Pada intinya bahwa motivasi merupakan kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan, menjamin kelangsungan dan memberikan arah kegiatan belajar, sehingga diharapkan tujuan dapat tercapai. Dalam kegiatan belajar, motivasi sangat diperlukan, sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar, tidak akan mungkin melakukan aktivitas belajar.

Baca juga Beasiswa Pendidikan Indonesia

Peran Guru dalam memotivasi Siswa dalam proses pembelajaran 

Pada diri setiap manusia telah tersedia potensi energi atau sebuah kekuatan yang dapat menggerakkan dan mengarahkan tingkah lakunya pada tujuan. Di dalamnya tercakup pula potensi energi/kekuatan untuk berprestasi (motif berprestasi) yang kekuatannya berbeda pada setiap manusia. Apabila terpicu, potensi energi berprestasi ini keadaannya akan meningkat bahkan akan menggerakkan dan mengarahkan pada tingkah laku belajar. Dengan demikian hal ini dapat memberikan pandangan sekaligus harapan bagi para pendidik/guru bahwa:

1. Setiap diri anak didik/siswa telah dibekali kekuatan untuk berprestasi (motivasi berprestasi).

2. Kekuatan berprestasi setiap siswa berbeda-beda.

3. Kekuatan berprestasi setiap siswa dapat ditingkatkan.

4. Setiap siswa dapat menunjukkan tingkah laku belajar atau usaha-usaha untuk mencapai tujuan belajar (memperoleh pengetahuan, pemahaman, dan pengembangan belajar).

5. guru perlu lebih menghayati perannya sebagai pendidik sehingga muncul rasa tanggung jawab dan kepercayaan diri dalam memproses anak didik.

6. Guru membutuhkan upaya-upaya yang dapat memicu bergeraknya motivasi berprestasi setiap siswa. Dalam proses pembelajaran, motivasi merupakan salah satu aspek dinamis yang sangat penting. Sering terjadi peserta didik yang kurang berprestasi bukan disebabkan oleh kemampuannya yang kurang, tetapi karena tidak adanya motivasi untuk relajar sehinhgga ia tidak berusaha untuk mengerahkan segala kemampuannya. Peran kemauan dan motivasi dalam Belajar sangat penting di dalam memulai dan memelihara usaha siswa. Motivasi memandu dalam mengambil keputusan, dankemauan menopang kehendak untuk menyelami suatu tugas sedemikian sehingga tujuan dapat dicapai. Di dalam belajar, kendali secara berangsur-angsur bergeser dari para guru ke siswa. Siswa mempunyai banyak kebebasan untuk memutuskan pelajaran apa dan tujuan apa yang hendak dicapai dan bermanfaat baginya. Belajar, ironisnya justru sangat kolaboratif. Siswa bekerja sama dengan para guru dan siswa lainnya di dalam kelas. Belajar mengembangkan pengetahuan yang lebih spesifik seperti halnya kemampuan untuk mentransfer pengetahuan konseptual ke situasi baru. Upaya untuk menghilangkan pemisah antara pengetahuan di sekolah dengan permasalahan hidup sehari-hari di dunia nyata. Tingkah laku belajar dapat terjadi bila siswa memiliki tujuan untuk apa ia belajar. Sehubungan dengan itu guru sejak awal pengajaran seyogyanya memberikan wawasan/informasi mengenai tujuan pencapaian tingkah laku belajar yang lebih spesifik atas ilmu yang sedang dipelajarinya saat itu serta bagaimana manfaat dan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari maupun manfaat atas pengembangan ilmu tersebut pada masa datang. Setiap siswa memiliki kebutuhan terkait dengan tingkah laku belajarnya sehingga tujuan belajar pun akan dicapai siswa dalam rangka memenuhi kebutuhannya tersebut. Dengan kata lain bahwa harapan siswa akan pemenuhan kebutuhannya yang dapat diperoleh dari pencapaian tujuan tingkah laku belajarnya dapat mendorong dirinya untuk menunjukkan tingkah laku belajar atau melakukan usaha-usaha pencapaian tujuan belajar tersebut. Para pendidik perlu mengidentifikasi kebutuhan siswa tersebut terkait dengan konsekwensi atas pencapaian tujuan belajar tersebut. Misalnya, pencapaian tujuan belajar adalah diperolehnya pemahaman atas suatu ilmu. Konsekuensi atas pemerolehan ini dapat bermacam-macam, antara lain: menjadi orang yang berpengetahuan agar dapat berkarya dibidang ilmunya, mendapatkan ranking di kelas sehingga membanggakan dirinya atau orang tua, mendapatkan ranking di kelas sehingga dapat memperoleh hadiah yang dijanjikan guru atau orang tua, mendapatkan ranking di kelas sehingga gengsi diri meningkat. Konsekwensi ini mengindikasikan kebutuhan anak didik/siswa tersebut, mengenai jenis motivasi, maka dapat dikatakan bahwa bila siswa menunjukkan tingkah laku belajar karena ingin memperoleh pemahaman yang lebih dalam atas ilmu tertentu sehingga menjadi siswa terdidik, dan kebutuhan itu hanya dapat dipenuhi hanya dengan belajar dan tidak ada cara lain selain belajar, maka tingkah laku belajarnya akan disertai dengan minat dan perasaan senang. Tergeraknya tingkah laku belajar yang didasari oleh penghayatan akan kebutuhan seperti dijelaskan di atas menunjukkan bahwa tingkah laku belajarnya digerakan oleh motivasi intrinsic. Sebaliknya, apabila aktivitas belajar siswa dimulai dan diteruskan berdasarkan kebutuhan dan dorongan yang tidak secara mutlak berkaitan dengan aktivitas belajar sendiri, maka dapat dikatakan ia tergerak oleh motivasi ekstrinsik. Bila kedua hal tersebut dibandingkan, terlihat bahwa motivasi intrinsik diperkirakan relatif akan bertahan lebih lama, karena daya tariknya bersifat internal dan tidak bergantung pada lingkungan luar. Dengan demikian, penting kiranya bagi para guru untuk menelusuri hal ini dan kemudian memberikan umpan balik kepada siswa mengenai jenis motivasi yang menggerakkan dan mengarahkan tingkah laku belajarnya agar siswa dapat menyadarinya, kemudian melakukan reorientasi atas tingkah laku belajarnya dengan harapan siswa dapat memilih dan menetapkan tujuan belajar yang pokok dan benar bagi dirinya. Harapan lain adalah siswa dapat menetapkan di dalam dirinya bahwa motif ekstrinsik menjadi tujuan penunjang dalam tingkah laku belajarnya.

Sejarah Hari Pendidikan

Sejarah Hari Pendidikan

Hari Pendidikan Nasional tiap tahunnya diperingati setiap tanggal 2 Mei. Namun Hari Pendidikan Nasional tahun ini bertepatan dengan dengan libur Idul Fitri 2022 dan juga cuti bersama. Sehingga upacara peringatan Hari Pendidikan Nasional akan dilakukan pada Jumat, 13 Mei 2022, besok.

Peringatan Hari Pendidikan Nasional bertujuan untuk memperingati kelahiran tokoh pelopor pendidikan di Indonesia Ki Hadjar Dewantara. Ya, Hari Pendidikan Nasional yang diperingati setiap tanggal 2 Mei ini bertepatan dengan hari lahir Bapak Pendidikan Nasional di Indonesia, Ki Hadjar Dewantara.

Ki Hadjar Dewantara lahir di Pakualaman pada tanggal 2 Mei 1889, dan meninggal di Jogjakarta, 26 April 1959 pada usia 69 tahun. Itu mengapa tanggal kelahiran beliau diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional di Indonesia.

Seperti yang masyarakat Tanah Air ketahui, beliau adalah seorang pahlawan nasional yang berani menentang kebijakan pendidikan pemerintah Hindia Belanda pada masa itu. Kebijakan yang ditentang adalah kebijakan tentang pendidikan yang hanya bisa dirasakan oleh anak-anak kelahiran Belanda atau anak-anak dari golongan berada saja.

Kritiknya terhadap kebijakan pemerintah saat itu membuat dirinya diasingkan ke Belanda. Setelah kembali ke Indonesia, Ki Hadjar Dewantara kemudian mendirikan sebuah lembaga pendidikan yang dikenal dengan nama Taman Siswa. Selain mendirikan Taman Siswa, masih banyak kontribusi Ki Hajar Dewantara dalam ranah pendidikan di Indonesia.

Ki Hadjar Dewantara juga merupakan seorang aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia, kolumnis, politisi, dan pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia di zaman penjajahan Belanda.

Pendidikan Ki Hajar Dewantara

Sejarah Hari Pendidikan

Ki Hadjar Dewantara menamatkan pendidikan dasar di ELS (Europeesche Lagere School) atau sekolah dasar pada zaman kolonial Hindia Belanda di Indonesia. Selanjutnya ia juga sempat melanjutkan pendidikan ke STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen), yaitu sekolah pendidikan dokter di Batavia pada zaman kolonial Hindia Belanda, namun tidak sampai lulus lantaran sakit.

Ki Hadjar Dewantara juga pernah bekerja sebagai penulis dan wartawan di beberapa surat kabar, ia juga aktif dalam organisasi sosial dan politik di Indonesia, yaitu Boedi Oetomo dan Insulinde. Tulisan Ki Hadjar Dewantara yang paling terkenal saat itu yaitu, “Een voor Allen maar Ook Allen voor Een” atau “Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu Juga.” Baca Juga : PERATURAN PENDIDIKAN DI INDONESIA

Ada pula kolom Ki Hadjar Dewantara yang paling terkenal dengan judul “Als ik een Nederlander was” diterjemahkan menjadi, “Seandainya Aku Seorang Belanda.”

Tulisan tersebut dimuat dalam surat kabar De Expres pada 13 Juli 1913, surat kabar tersebut berada di bawah pimpinan Ernest Douwes Dekker. Namun lantaran tulisannya tersebut, ia ditangkap dan diasingkan ke Pulau Bangka.

Tapi kedua rekannya, Ernest Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo, melakukan protes atas pengasingan tersebut. Akhirnya mereka bertiga pun diasingkan ke Belanda, dan ketiga tokoh ini kemudian dikenal dengan sebutan “Tiga Serangkai.”

<strong>Beasiswa Pendidikan Indonesia</strong>

Beasiswa Pendidikan Indonesia

<strong>Beasiswa Pendidikan Indonesia</strong>

Beasiswa Pendidikan Indonesia – Apa Itu BPI Kemendikbudristek ? Beasiswa Pendidikan Indonesia atau disingkat BPI Kemendikbudristek adalah program beasiswa Kerjasama antara Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi melalui program Perluasan Program LPDP.

BPI Kemendikbudristek terdiri dari Program Bergelar (Degree) dan Program Non Gelar (Non Degree). Program Bergelar S1, S2, dan S3 dikelola oleh Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan (Puslapdik). Program Non Gelar dikelola oleh masing-masing Unit Pengampu ( Direktorat dan Pusat yang ada di Lingkungan Kemendikbudristek) Pengelola Program ini adalah Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan (PLPP) Sekretariat Jenderal Kemdikbudristek.

Mengenal Lebih Dekat Beasiswa Pendidikan Indonesia

Program yang dapat didanai oleh BPI Kemendikbudristek melalui Perluasan Program LPDP, BPI mendanai baik Program Bergelar (Degree) dan Program Non Gelar (Non Degree).

Program degree yang dapat didanai oleh BPI Kemendikbudristek BPI Program Bergelar (Degree) yang dikelola oleh Puslapdik mendanai Pembiayaan Beasiswa untuk S1/D4, S2 single degree, S2 Double/Joint Degree, S3 Single Degree, dan S3 Double/Joint Degree

Untuk Program Non Gelar (Non Degree) didanai melalui perluasan program LPDP, mulai dari kampus mengajar, magang bersertifikat, pertukaran mahasiswa, peningkatan kompetensi untuk guru, dosen dan mahasiswa melalui berbagai macam shortcourse, serta berbagai macam program untuk dosen dan tenaga pendidik melalui pertukaran dosen. Adapun program non degree tersebut tidak dikelola oleh Puslapdik namun dikelola dan disalurkan melalui masing masing unit pengampu yaitu Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (DIKTI), Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Pendidikan (GTK), Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, dan Direktorat Jenderal Kebudayaan.

Baca juga Banyaknya Anak Putus Sekolah

Semua Warga Negara Indonesia yang memenuhi ketentuan persyaratan BPI berhak untuk mendaftar, terutama untuk siswa Calon Guru SMK, siswa dan Mahasiswa Berprestasi, Guru, Dosen, Tenaga Kependidikan dan Pelaku Budaya

Durasi maksimal pembiayaan beasiswa untuk masing masing jenjang adalah sebagai berikut:

  • D4/S1 maksimal 48 bulan atau 4 tahun
  • S2 (Magister) maksimal 24 bulan atau 2 tahun
  • S3 (Doktoral) maksimal 48 bulan atau 4 tahun

Pendanaan BPI meliputi komponen pembiayaan sebagai berikut:

  • Dana Pendidikan
    a) Dana SPP (Tuition Fee)
    b) Dana Pendaftaran
    c) Dana Tunjangan Buku
    d) Dana Bantuan Penelitian Tesis/Disertasi
    e) Dana Bantuan Seminar Internasional
    f) Dana BAntuan Publikasi Jurnal Internasional
  • Biaya Pendukung
    a) Dana Transportasi
    b) Dana Aplikasi Visa
    c) Dana Asuransi Kesehatan
    d) Dana Kedatangan
    e) Dana Hidup Bulanan
    f) Dana Keadaan Darurat (Force Majeure)
    g) Dana Tunjangan Keluarga

Penerima beasiswa dengan kebutuhan khusus (disabilitas) dapat memperoleh tambahan biaya pendukung sebagai berikut:

a) Dana Aplikasi Visa Pendamping

b) Dana Transportasi Pendamping

c) Dana Asuransi Kesehatan Pendamping

d) Dana Tunjangan bagi Pendamping

PERATURAN PENDIDIKAN DI INDONESIA

PERATURAN PENDIDIKAN DI INDONESIA

Pada dasarnya pengertian pendidikan ( UU SISDIKNAS No.20 tahun 2003 ) adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.

PERATURAN PENDIDIKAN DI INDONESIA

Sistem pendidikan nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu serta relevansi dan efisiensi manajemen pendidikan untuk menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global. Untuk itu, perlu dilakukan pembaharuan pendidikan secara terencana, terarah, dan berkesinambungan.

Pendidikan nasional sendiri tercantum dalam (UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2003 TENTANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL). Dalam UU ini diatur mengenai dasar, fungsi, dan tujuan sistem pendidikan nasional; prinsip penyelenggaraan pendidikan; hak dan kewajiban warga negara, orang tua, masyarakat, dan pemerintah; peserta didik; jalur, jenjang, dan jenis pendidikan; bahasa pengantar; dan wajib belajar.

Telah dilakukan uji materi oleh MK dengan putusan sebagai berikut:

  • 011/PUU-III/2005 Penjelasan Pasal 49 ayat (1) Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bertentangan dengan UUD NRI Tahun 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat.
  • 11-14-21-126 dan 136/PUU-VII/2009 a. Pasal 6 ayat (2) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional sepanjang frasa, “… bertanggung jawab” adalah konstitusional sepanjang dimaknai “… ikut bertanggung jawab”, sehingga pasal tersebut selengkapnya menjadi, “Setiap warga negara ikut bertanggung jawab terhadap keberlangsungan penyelenggaraan pendidikan”; b. Pasal 12 ayat (1) huruf c Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional sepanjang frasa, “…yang orang tuanya tidak mampu membiayai pendidikannya”, bertentangan dengan UUD NRI Tahun 1945, sehingga Pasal 12 ayat (1) huruf c Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menjadi, “Mendapatkan beasiswa bagi yang berprestasi”; c. Pasal 53 ayat (1) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional konstitusional sepanjang frasa “badan hukum pendidikan” dimaknai sebagai sebutan fungsi penyelenggara pendidikan dan bukan sebagai bentuk badan hukum tertentu; d. Penjelasan Pasal 53 ayat (1) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bertentangan dengan UUD NRI Tahun 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat.
  • 24/PUU-V/2007 Pasal 49 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional sepanjang mengenai frasa “gaji pendidik dan” bertentangan dengan UUD NRI Tahun 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat.
  • 58/PUU-VIII/2010 Kata ‘dapat’ dalam Pasal 55 ayat (4) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bertentangan dengan UUD NRI Tahun 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat kalau dimaknai berlaku bagi jenjang pendidikan dasar yang berbasis masyarakat

Baca Selanjutnya : Perkembangan Pendidikan Di Indonesia