Mengapa Sekolah di Jepang Larang Siswinya Dikuncir Kuda?

Mengapa Sekolah di Jepang Larang Siswinya Dikuncir Kuda?

Mengapa Sekolah di Jepang Larang Siswinya Dikuncir Kuda?

Mengapa Sekolah di Jepang Larang Siswinya Dikuncir Kuda? – Baru-baru ini, beberapa sekolah di Jepang melarang para siswa perempuannya untuk menata rambut bersama model kuncir kuda di sekolah. Sekolah ini mengkuatirkan bahwa tengkuk berasal dari siswa perempuan ini dapat menarik gairah seksual berasal dari siswa laki-laki.

Dilansir Wionews, ketetapan ini terungkap melalui Motoki Sugiyama, yang merupakan salah satu mantan guru SMP di Jepang.

“Sekolah ini khawatir anak laki-laki akan menyaksikan anak perempuan yang sama bersama alasan di balik penegakan ketetapan warna busana didalam cuma putih. Saya senantiasa mengkritik ketetapan ini namun dikarenakan kritiknya tidak cukup dan menjadi sangat norma, siswa tidak punyai pilihan tak sekedar menerimanya,” ungkap Sugiyama.

Baca juga: Pendidikan Karakter

Sugiyama lantas menjelaskan bahwa kuantitas sekolah yang udah menerapkan ketetapan ini masih belum diketahui angka pastinya. Karena hingga selagi ini masih belum tersedia information statistik nasional berkaitan akan perihal tersebut.

Sekolah-sekolah di Jepang sendiri memang punyai berbagai ketetapan ketat berkaitan tampilan para siswanya. Seperti warna rambut, aksesoris, make-up, dan juga seragam juga panjang rok untuk siswa perempuan.

Hampir setengah berasal dari sekolah menengah di Tokyo yang berharap para siswanya yang punyai rambut bergelombang dan enggak berwarna hitam untuk menyerahkan sertifikat yang membuktikan jika rambut mereka enggak diubah secara artifisial.

Dari 177 sekolah menengah yang dikelola oleh pemerintah Metropolitan Tokyo, 79 sekolah berharap serifikat ini ditandatangani oleh orang tua masing-masing.

Pengalaman Siswa yang Harus Mengubah Warna Rambut Hingga Gugat Pemerintah Daerah
Beberapa th. lalu juga seorang remaja Jepang sempat menggugat pemerintah area Osaka. Hal ini dikarenakan sekolah area perempuan selanjutnya menuntut pengetahuan terus memaksa dirinya untuk merubah warna rambut cokelatnya menjadi hitam.


Menurutnya, permohonan berasal dari sekolahnya itu enggak masuk akal dikarenakan warna alami berasal dari rambutnya adalah cokelat. Pihak sekolah juga pernah membuktikan jika perempuan yang namanya dirahasiakan itu enggak diperbolehkan masuk sekolah jika rambutnya enggak diwarnai hitam.

Hingga akhirnya, siswa perempuan selanjutnya pun menuruti permohonan pihak sekolah. Namun, ketentuan untuk mewarnai rambutnya menjadi salah besar. Rambut perempuan itu pun menjadi rusak dan iritasi akibat zat kimia yang ditimbulkan berasal dari pewarna rambut.

Siswa selanjutnya dan juga ibunya pun menuntut pemerintah area Osaka yang bertanggung jawab atas sekolah Kaifukan untuk langsung mengganti rugi kerusakan rambutnya sebanyak 2,2 juta yen atau kira-kira Rp 259 juta.

Bukan cuma itu, perempuan ini pun juga memutuskan untuk enggak masuk sekolah. Menanggapi gugatan tersebut, kepala sekolah Kaifukan, enggan berkomentar banyak. Ia cuma menjelaskan bahwa sekolahnya melarang para siswanya untuk mengecat rambut dan semuanya harus berwarna hitam.

Kebiasaan Menyontek Siswa di Sekolah

Kebiasaan Menyontek Siswa di Sekolah

Kebiasaan Menyontek Siswa di Sekolah

Kebiasaan Menyontek Siswa di Sekolah – Metode belajar setiap siswa berbeda-beda, ada yang lebih nyaman belajar dengan sistem mendengarkan atau mengikuti pembelajaran secara langsung dan ada juga yang lebih menyenangi belajar mandiri seperti mencari informasi dibeberapa web atau lain sebagainya. Ketika ini kecurangan pada dikala ulangan banyak dikerjakan siswa seperti meminta jawaban terhadap teman sebangku atau pun menulis materi di kertas yang kemudian dibuka dikala pengawas tidak memandang, kecurangan dikala ulangan umumnya disebabkan oleh adanya rasa malas belajar pada diri siswa yang membikin siswa lebih bergantung pada teman yang belajar atau lebih memilih mengisi secara asal.

Gaya belajar terbagi sebagian komponen yakni yang pertama gaya belajar visual, kedua gaya belajar dengan sistem mendengarkan langsung penjelasan dari pendidik, ketiga gaya belajar dengan sistem gerakan, keempat gaya belajar dengan sistem menulis dan membaca. Metode belajar siswa seringkali dikaitkan dengan sistem siswa memandang, mendengarkan, memandang, menyimak, melakukan, dan mengikuti gerak tubuh selama pengajaran menerangkan materi, belajar tentunya berimbas terhadap peningkatan pengetahuan siswa. Apabila indera siswa terlatih secara baik dan benar maka akan mempercepat daya tangkapan terhadap siswa serta meningkatkan ingatan bentang panjang yang bisa mensupport prestasi belajar siswa lebih baik lagi.

Baca juga: UGM Konfirmasi Mahasiswanya Lakukan Kekerasan Seksual, Korban Lebih Dari Satu

Memahami sistem belajar setiap siswa juga bisa membentuk sebuah pandangan seorang pendidik seputar bagaimana seorang siswa yang masih berani menyontek pun dikala pengawasan masih berada di dalam ruangan, tentunya bukan hanya seputar kecurangan siswa namun juga bagaimana usaha siswa itu sendiri dalam menghadapi ulangan.

Terkadang siswa yang melakukan kecurangan atau menyontek dikala ulangan cenderung disebabkan oleh rasa takut siswa jika menerima skor rendah atau pun siswa yang kesusahan dalam memahami pembelajaran sehingga tidak sanggup menyesuaikan soal ulangan, tidak jarang juga siswa yang menyontek disebabkan oleh siswa yang malas dalam belajar. Karenanya untuk itu penting kiranya bagi pendidik untuk memahami gaya belajar siswa guna untuk memberikan pemahaman yang mudah dipahami siswa agar bisa membantu kesusahan belajar siswa, siswa menyontek bukan hanya karena hambatan dalam belajar namun juga sistem siswa dalam menghadapi hal itu juga bisa menghalangi belajar.

Belajar akan terasa menyenangkan dan terasa aman jika keadaan lahiriah ataupun lingkungan juga mensupport, hal ini juga terkait dengan gaya belajar setiap siswa. Setiap siswa dengan gaya belajar yang berbeda setiap siswanya memiliki kenyamanan yang berbeda dalam keadaan belajar. Sebab setiap gaya belajar memiliki ciri khasnya masing-masing. Kecenderungan gaya belajar siswa yang menyontek dikala ulangan dipilih siswa guna menerima informasi dari lingkungan dan kemudian memproses informasi hal yang demikian, setiap si kecil sudah memiliki gaya belajarnya sendiri namun masih ada saja si kecil yang tidak percaya diri dengan hasil dari belajarnya sendiri sehingga memilih untuk menyontek.

Metode menuntaskan siswa menyontek, menyontek yakni perbuatan aib sebagai pendidik menerangkan dengan tegas akan pengaruh buruk dari menyontek, seperti memberikan hukuman terhadap si kecil didik dan memakai bahwa kejujuran amat penting dipakai dalam kehidupan bermasyarakat.

Siswa SMK Ciptakan Kacamata Sensor, Bisa Tolong Tunanetra

Siswa SMK Ciptakan Kacamata Sensor, Bisa Tolong Tunanetra

Siswa SMK Ciptakan Kacamata Sensor, Bisa Tolong Tunanetra

Siswa SMK Ciptakan Kacamata Sensor, Bisa Tolong Tunanetra – Regu dari SMK Al Huda, Kota Kediri, Jawa Timur sukses menciptkan terobosan baru. Dalam arena “Samsung Innovation Campus (SIC) Batch 3 – 2021/2022” tim menjadikan kacamata untuk menolong penyandang tunanetra.

Menurut salah seorang siswa, Daffa Eka Sujianto, produk hal yang demikian merupakan hasil dari materi boothcamp. Materi seperti mengerjakan sensor dengan program python, mengirim data sensor ke data IoT (Dunia of Things) menunjang Daffa dan tim untuk menjadikan kacamata sensor ini.

“Kami berbahagia dapat lolos hingga ke stage ini karena belum pernah diajar materi-materi seperti itu,” kata Daffa pada laman Direktorat Jenderal Vokasi Kemendikbud, Jumat (30/9/2022).

Inovasi yang sudah menempuh tahap 3 ini sudah meloloskan sebanyak 100 siswa dari stage 2 yang terbagi dalam 25 tim. Regu hal yang demikian terdiri atas 6 madrasah aliyah negeri (MAN) sebanyak 8 tim dan 10 SMK sebanyak 17 tim yang berasal dari beragam sekolah di Indonesia.

Baca juga: Deretan Jurusan Kuliah Yang Gampang Cari Kerja Dan Cerah Masa Depannya

Pada stage ketiga, para siswa disupport untuk menjadi IoT developer. Kecuali itu, para siswa diajar sebagian materi, seperti Foundation & Hardware (IoT), Networking & Communication Basics (Raspberry Pi), dan Software & Platform (MongoDB, PyMongo, UBIDOTS).

Via materi yang diperoleh, tim SMK Al Huda menjadikan kacamata yang dilengkapi dengan sensor ultrasonik, GPS, kamera, dan speaker. Nantinya, speaker akan memberikan perintah berbelok terhadap tunanetra berdasarkan data dari sensor. Oleh karena itu, kacamata hal yang demikian dijadikan untuk menolong tunanetra beraktivitas.

Tantangan Merakit Kacamata Sensor
Tantangan yang dihadapi para siswa SMK Al Huda ini tidak sedikit. Kerap kali, mereka tidak sukses menemukan perangkat keras yang menunjang.

Kecuali itu, sebagian sensor juga tidak dapat menangkap sinyal sehingga seharusnya membeli perangkat baru. Dari situasi sulit yang dihadapi, Daffa malahan berkeinginan, kesibukan hal yang demikian dapat menambahkan waktu untuk mentoring guna menuntaskan situasi sulit yang terjadi saat hendak menjadikan inspirasi.

SMK Al Huda di Kota Kediri ini memiliki 6 program keahlian, merupakan Teknik Instalasi Daya Listrik, Teknik Komputer dan Jaringan, Teknik Bisnis Sepeda Motor, Teknik Kendaraan Ringan, Komputer Multimedia, serta Teknik Pemesinan yang sudah terakreditasi “A” oleh BAN S/M.

SMK ini juga tercatat sudah menjalin kerja sama dengan sebagian perusahaan untuk mendirikan kelas industri, di antaranya Axioo Class Program, DNA Evercoss, TSM Honda, dan Samsung Tech Institute.

Tidak Ada Pembenaran untuk Kekerasan di Dunia Pendidikan

Tidak Ada Pembenaran untuk Kekerasan di Dunia Pendidikan

Tidak Ada Pembenaran untuk Kekerasan di Dunia Pendidikan

Tidak Ada Pembenaran untuk Kekerasan di Dunia Pendidikan – Wakil Ketua MPR RI Ahmad Basarah mengaku prihatin kekerasan demi kekerasan terjadi di dunia pengajaran nasional. Menurutnya, pemerintah semestinya memiliki terobosan baru untuk mencegah persoalan serupa terulang kembali.

Diketahui, sesudah seorang santri Gontor meninggal akibat penganiayaan rekan-rekannya akhir Agustus lalu, kini seorang siswa SMAN 9 Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), dipecat oleh dewan guru akibat menendang dan menganiaya guru perempuan sampai hidungnya berdarah.

“Tidak ada pembetulan apapun untuk segala kekerasan di dunia pengajaran. Masa guru sampai dianiaya muridnya sendiri? Fenomena ini menggambarkan masih ada cara pengajaran yang masih kurang layak dalam dunia pengajaran kita,” ujar Basarah dalam keterangannya, Jumat (23/9/2022).

Anggota Komisi X DPR RI yang membidangi pengajaran ini menunjang keputusan Dewan Guru SMAN 9 Kupang, yang mengeluarkan siswanya akibat tindakan tersebut. Basarah juga menunjang Keputusan Kepala Dinas Pengajaran dan Kebudayaan Provinsi NTT, Linus Lusi, yang pada Kamis (22/9) menunjang keputusan Dewan Guru SMAN 9 Kupang.

Basarah berharap agar Mendikbud-Ristek Nadiem Makarim dan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas bisa melihat kekerasan di dunia pengajaran nasional secara khusus. Sebab ini layak amanat UU No 14 Tahun 2005 seputar Guru dan Dosen Pasal 39 yang menyatakan bahwa pemerintah, pemerintah tempat, masyarakat, organisasi pekerjaan, dan/atau satuan pengajaran semestinya memberikan perlindungan terhadap guru dalam progres tugas.

Di samping itu, Dosen Universitas Islam Malang ini mengusulkan agar Kemendikbud-Ristek dan Kemenag bisa berkoordinasi dengan Mabes Polri untuk memperketat peredaran minuman keras dan narkotika di kalangan pelajar dan pemuda. Pengorbanan, menurutnya, kedua barang tersebut bisa menunjang pemuda bertingkah barbarian.

Baca juga: Opsi Karier Untuk Sarjana Pendidikan

“Pihak sekolah semestinya aktif menjalin komunikasi dengan Polri dan BNN demikian itu mengecup gelagat sekolah mereka dirasuki peredaran minuman keras, apalagi disantroni jaringan Narkoba. Jangan takut melapor demi menjaga kualitas dan masa depan anak bangsa,” katanya.

Ketua Fraksi PDI Sedangkan ini juga mengusulkan pihak sekolah semestinya memperkuat pengajaran budi pekerti di kalangan pelajar dengan cara didik yang menarik dan bahan bacaan yang representatif.

Menurutnya, cara pengajaran nasional yang kini bergantung pada UU No. 20 Tahun 2003 telah baik sebab Pancasila dan UUD NRI Tahun 1945 menjadi dasarnya. Supaya demikian, Doktor bidang aturan lulusan Universitas Diponegoro Semarang ini mengimbau agar Kemendikbud-Ristek dan Kemenag bisa menyajikan materi yang berisi falsafah dan kearifan lokal bangsa Indonesia yang penuh dengan poin-poin kemanusiaan untuk diwujudkan figur siswa di Indonesia.

“Di Indonesia kisah-kisah bijak yang memperkaya budi pekerti amat banyak. Seandainya lebih bervariasi, kisah-kisah figur lainnya bisa juga diambil dari negara lain. Kedua kementerian ini bisa mengumpulkan cerita-cerita figur yang baik, lalu menerbitkannya dengan desain gambar dan visual yang menarik. Sekadar kita sisipkan poin-poin Pancasila di dalamnya, itu akan lebih baik sebab cara itu lebih layak dengan selera generasi milenial ketika ini,” pungkasnya.

dikenal, akhir-akhir ini sejumlah kekerasan di dunia pengajaran, baik oleh murid terhadap murid, oleh guru terhadap murid, atau oleh murid terhadap guru acap kali terjadi di Indonesia. Penganiayaan oleh siswa SMAN 9 Kupang terhadap gurunya, Maria Theresa yaitu kasus terupdate.

Sebelumnya, Eko Hadi Prasetya (43), guru di Pondok Pesantren Al Madina di Samarinda, Kalimantan Timur, tewas dikeroyok dua santrinya pada Februari 2022 usai salat. Kedua santri itu memukuli korban bertubi-tubi sebanyak tujuh kali sampai tewas.

Peran Guru dalam Motivasi Belajar Siswa

Peran Guru dalam Motivasi Belajar Siswa

Guru merupakan ujung tombak dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Terutama dalam memberikan motivasi kepada siswa sehingga mampu meningkatkan kualitas pendidikan demi mencerdarkan kehidupan bangsa. Peranan guru menjadi motif daya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu guru perlu menumbuhkan motivasi belajar peserta didik untuk memperoleh hasil belajar yang optimal demi tercapainya suatu tujuan tertentu.

Pentingnya Motivasi Belajar 

Kata motif sering diartikan sebagai daya dalam diri seseorang untuk melakuklan sesuatu. Motif adalah sebab yang menjadi dorongan tindakan seseorang. Motif diartikan sebagai daya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Motif dapat dikatakan sebagai daya penggerak dari dalam diri subyek untuk melakukan aktivitsaktivitas tertentu demi mecapai suatu tujuan. Bahkan motif dapat diartikan sebagai kondisi intern. (kesiapsiagaan), berawal dari kata motif itu, makaka motivasi dapat diartikan sebagai daya penggerak yang telah menjadi aktif. Motif menjadi aktif pada saat tertentu, terutama bila kebutuhan untuk mencapai tujuan dapat dirasakan/mendesak (sardiman, 2004). Motivasi dipandang sebagai dorongan mental yang menggerakkan dan mengarahkan prilaku manusia termasuk prilaku belajar. Dalam motivasi terkandung adanya keinginan, harapan, tujuan, sasaran, dan insentif. Keadaan inilah yang mengaktifkan, menggerakkan, menyalurkan, dan mengarahkan sikap dan prilaku individu belajar (dimyati dan Mudjono, 1994). Motivasi merupakan kekuatan yang mendorong manusia untuk melakukan sesuatu dalam mencapai tujuan. Hal tersebut, terlaksana karena dirangsang dari berbagai macam kebutuhan atau keinginan yang hendak dipenuhi. Komponen utama motivasi, yaitu:

a) kebutuhan,

b) perilaku/dorongan, dan

c) tujuan.

Untuk mewujudkan terjadinya belajar, motivasi mempunyai kedudukan yang Sangat penting artinya bagi peserta didik, diantaranya adalah memperbesar semangat belajar. Ali (1983: 14) mengemukakan bahwa belajar adalah “proses perubahan perilaku, akibat interaksi individu dengan lingkungan”. Menurut Sardiman (1986:22) “Belajar dalam arti luas, dapat diartikan sebagai kegiatan psiko-fisik menunjukkan perkembangan pribadi seutuhnya”. Disini dapat dilihat bahwa belajar merupakan sarana pengembangan pribadi dari individu yang melakukannya. Lebih lanjut Sardiman (1986:22) juga mendefinisikan belajar dalam arti sempit yaitu “Belajar dimaksudkan sebagai usaha penguasaan materi ilmu pengetahuan yang merupakan sebagai kegiatan menuju terbentuknya kepribadian seutuhnya”. Dari pendefinisian tersebut, dapat diartikan bahwa belajar adalah suatu usaha pengembangan diri. Menurut Sahabuddin (2007: 131-134) bahwa prinsip-prinsip belajar meliputi:

1) Pernyataan tujuan yang jelas,

2) Menjelaskan mengenai bagaimana belajar,

3) Perbuatan yang diharapkan dari siswa,

4) Tinjauan menyeluruh tentang materi yang dipelajari,

5) Mengoptimalkan tugas-tugas belajar,

6) Tinjauan berkala,

7) Aktif Belajar,

8) Alasan mempelajari keterampilan dan informasi,

9) aplikasi materi yang telah dipelajari,

10) motivasi intrinsik, ekstrinsik dan insentif,

11) mengajarkan kepada orang lain,

12) menggunakan pelajaran yang terorganisasi baik,

13) menggunakan prinsip lanjutan dan kaitan. Belajar adalah semua upaya manusia atau individu memobilisasikan (menggerakkan, mengerahkan dan mengarahkan semua sumber daya manusia yang dimilikinya (fisik, mental, Intelektual, Emosional dan Sosial) untuk memberikan jawaban (respons) yang tepat terhadap problema yang dihadapinya. Dalam proses balajar haruslah diperhatikan prinsip belajar. Karena proses belajar memang kompleks tetapi dianalisis dan diperinci dalam bentuk prinsip-prinsip atau asas-asas belajar. Hal ini perlu diketahui agar kita memiliki pedoman dalam belajar secara efisien. Prinsipprinsip tersebut antara lain:

1. Belajar adalah suatu proses aktif dimana terjadi hubungan saling mempengaruhi secara dinamis antara siswa dengan lingkungan.

2. Belajar senantiasa harus bertujuan, terarah dan jelas bagi siswa. Tujuan akan menuntunnya dalam belajar untuk mencapai harapan-harapannya.

3. Belajar paling efektif apabila didasari oleh dorongan motivasi yang murni dan bersumber dari dalam diri sendiri. Belajar adalah istilah kunci yang paling vital dalam setiap usaha pendidikan sehingga tanpa belajar sesungguhnya tidak pernah ada pendidikan. Sebagai suatu proses belajar hampir selalu mendapat tempat yang luas dari berbagai disiplin ilmu yang berkaitan dengan upaya pendidikan. Belajar diarahkan untuk tercapainya pemahaman yang lebuh luas dan mendalam mengenai proses perubahan manusia itu. Berkembang lebih jauh dari mahluk yang lainnya sehingga boleh jadi karena kemampuan berkembang melalui belajar itulah manusia secara bebas mengeksplorasi, memilih dan menetapkan keputusan-keputusan penting untuk kehidupannya. Perubahan dan kemampuan untuk berubah merupakan batasan dan makna yang terkandung dalam belajar. Karena belajarkah maka manusia dapat Belajar adalah sesuatu kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Kegiatan belajar dapat berlangsung di mana-mana, misalnya di lingkungan keluarga, di sekolah dan di masyarakat, baik disadari maupun tidak, disengaja atau tidak. Belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang. Perubahan sebagai hasil dari proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti berubah pengetahuan, pemahaman, sikap dan tingkah laku, keterampilan, kecakapan, kebiasaan serta perubahan aspek-aspek lain yang ada pada individu yang belajar. Hakikat belajar dan mengajar yang lebih progresif berbeda dengan hakikat belajar dan mengajar dengan pola tradisional. Pada pola tradisional, kegiatan mengajar lebih diarahkan pada aliran informasi dari guru ke siswa. Pandangan ini mendorong guru untuk memerankan diri sebagai tukang ajar. Artinya apabila guru mengajar ia lebih mempersiapkan dirinya supaya berhasil dalam menyampaikan serta menuntaskan/menyelesaikan semua materi pelajaran sesuai dengan waktu yang disediakan. Pada pola progresif makna belajar diartikan sebagai pembangunan gagasan pengetahuan oleh siswa sendiri selain peningkatan ketrampilan dan pengembangan sikap positif. Belajar secara essensial merupakan proses yang bermakna, bukan sesuatu yang berlangsung secara mekanis dan tidak sekedar rutinitas. Belajar harus baik dan menyenangkan sehingga kesannya menjadi penuh bermakna. Pada intinya bahwa motivasi merupakan kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan, menjamin kelangsungan dan memberikan arah kegiatan belajar, sehingga diharapkan tujuan dapat tercapai. Dalam kegiatan belajar, motivasi sangat diperlukan, sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar, tidak akan mungkin melakukan aktivitas belajar.

Baca juga Beasiswa Pendidikan Indonesia

Peran Guru dalam memotivasi Siswa dalam proses pembelajaran 

Pada diri setiap manusia telah tersedia potensi energi atau sebuah kekuatan yang dapat menggerakkan dan mengarahkan tingkah lakunya pada tujuan. Di dalamnya tercakup pula potensi energi/kekuatan untuk berprestasi (motif berprestasi) yang kekuatannya berbeda pada setiap manusia. Apabila terpicu, potensi energi berprestasi ini keadaannya akan meningkat bahkan akan menggerakkan dan mengarahkan pada tingkah laku belajar. Dengan demikian hal ini dapat memberikan pandangan sekaligus harapan bagi para pendidik/guru bahwa:

1. Setiap diri anak didik/siswa telah dibekali kekuatan untuk berprestasi (motivasi berprestasi).

2. Kekuatan berprestasi setiap siswa berbeda-beda.

3. Kekuatan berprestasi setiap siswa dapat ditingkatkan.

4. Setiap siswa dapat menunjukkan tingkah laku belajar atau usaha-usaha untuk mencapai tujuan belajar (memperoleh pengetahuan, pemahaman, dan pengembangan belajar).

5. guru perlu lebih menghayati perannya sebagai pendidik sehingga muncul rasa tanggung jawab dan kepercayaan diri dalam memproses anak didik.

6. Guru membutuhkan upaya-upaya yang dapat memicu bergeraknya motivasi berprestasi setiap siswa. Dalam proses pembelajaran, motivasi merupakan salah satu aspek dinamis yang sangat penting. Sering terjadi peserta didik yang kurang berprestasi bukan disebabkan oleh kemampuannya yang kurang, tetapi karena tidak adanya motivasi untuk relajar sehinhgga ia tidak berusaha untuk mengerahkan segala kemampuannya. Peran kemauan dan motivasi dalam Belajar sangat penting di dalam memulai dan memelihara usaha siswa. Motivasi memandu dalam mengambil keputusan, dankemauan menopang kehendak untuk menyelami suatu tugas sedemikian sehingga tujuan dapat dicapai. Di dalam belajar, kendali secara berangsur-angsur bergeser dari para guru ke siswa. Siswa mempunyai banyak kebebasan untuk memutuskan pelajaran apa dan tujuan apa yang hendak dicapai dan bermanfaat baginya. Belajar, ironisnya justru sangat kolaboratif. Siswa bekerja sama dengan para guru dan siswa lainnya di dalam kelas. Belajar mengembangkan pengetahuan yang lebih spesifik seperti halnya kemampuan untuk mentransfer pengetahuan konseptual ke situasi baru. Upaya untuk menghilangkan pemisah antara pengetahuan di sekolah dengan permasalahan hidup sehari-hari di dunia nyata. Tingkah laku belajar dapat terjadi bila siswa memiliki tujuan untuk apa ia belajar. Sehubungan dengan itu guru sejak awal pengajaran seyogyanya memberikan wawasan/informasi mengenai tujuan pencapaian tingkah laku belajar yang lebih spesifik atas ilmu yang sedang dipelajarinya saat itu serta bagaimana manfaat dan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari maupun manfaat atas pengembangan ilmu tersebut pada masa datang. Setiap siswa memiliki kebutuhan terkait dengan tingkah laku belajarnya sehingga tujuan belajar pun akan dicapai siswa dalam rangka memenuhi kebutuhannya tersebut. Dengan kata lain bahwa harapan siswa akan pemenuhan kebutuhannya yang dapat diperoleh dari pencapaian tujuan tingkah laku belajarnya dapat mendorong dirinya untuk menunjukkan tingkah laku belajar atau melakukan usaha-usaha pencapaian tujuan belajar tersebut. Para pendidik perlu mengidentifikasi kebutuhan siswa tersebut terkait dengan konsekwensi atas pencapaian tujuan belajar tersebut. Misalnya, pencapaian tujuan belajar adalah diperolehnya pemahaman atas suatu ilmu. Konsekuensi atas pemerolehan ini dapat bermacam-macam, antara lain: menjadi orang yang berpengetahuan agar dapat berkarya dibidang ilmunya, mendapatkan ranking di kelas sehingga membanggakan dirinya atau orang tua, mendapatkan ranking di kelas sehingga dapat memperoleh hadiah yang dijanjikan guru atau orang tua, mendapatkan ranking di kelas sehingga gengsi diri meningkat. Konsekwensi ini mengindikasikan kebutuhan anak didik/siswa tersebut, mengenai jenis motivasi, maka dapat dikatakan bahwa bila siswa menunjukkan tingkah laku belajar karena ingin memperoleh pemahaman yang lebih dalam atas ilmu tertentu sehingga menjadi siswa terdidik, dan kebutuhan itu hanya dapat dipenuhi hanya dengan belajar dan tidak ada cara lain selain belajar, maka tingkah laku belajarnya akan disertai dengan minat dan perasaan senang. Tergeraknya tingkah laku belajar yang didasari oleh penghayatan akan kebutuhan seperti dijelaskan di atas menunjukkan bahwa tingkah laku belajarnya digerakan oleh motivasi intrinsic. Sebaliknya, apabila aktivitas belajar siswa dimulai dan diteruskan berdasarkan kebutuhan dan dorongan yang tidak secara mutlak berkaitan dengan aktivitas belajar sendiri, maka dapat dikatakan ia tergerak oleh motivasi ekstrinsik. Bila kedua hal tersebut dibandingkan, terlihat bahwa motivasi intrinsik diperkirakan relatif akan bertahan lebih lama, karena daya tariknya bersifat internal dan tidak bergantung pada lingkungan luar. Dengan demikian, penting kiranya bagi para guru untuk menelusuri hal ini dan kemudian memberikan umpan balik kepada siswa mengenai jenis motivasi yang menggerakkan dan mengarahkan tingkah laku belajarnya agar siswa dapat menyadarinya, kemudian melakukan reorientasi atas tingkah laku belajarnya dengan harapan siswa dapat memilih dan menetapkan tujuan belajar yang pokok dan benar bagi dirinya. Harapan lain adalah siswa dapat menetapkan di dalam dirinya bahwa motif ekstrinsik menjadi tujuan penunjang dalam tingkah laku belajarnya.