5 Sekolah Kedinasan Terbaik di Indonesia yang Bisa Langsung Kerja Setelah Lulus

5 Sekolah Kedinasan Terbaik di Indonesia yang Bisa Langsung Kerja Setelah Lulus – Sekolah kedinasan adalah perguruan tinggi yang memiliki ikatan dengan lembaga pemerintah sebagai penyelenggara pendidikan.

Dikutip dari gadunslot88, dari sejumlah sekolah kedinasan di Indonesia berikut lima yang terbaik dan bisa langsung kerja setelah lulus. Apa saja?

1. Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN)


STAN dinaungi Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dan menyelenggarakan program studi diploma di bidang keuangan. Jurusan kuliah yang tersedia yakni Kepabeanan dan Cukai, Akuntansi, Pajak, sampai Manajemen Keuangan. Lulusannya akan mengikuti ujian seleksi CPNS untuk ditempatkan di instansi Kemenkeu atau lainnya.

2. Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS)


STIS berada di bawah naungan Badan Pusat Statistik (BPS). Di sini ada jurusan Statistika dan Komputasi Statistika. Lulusannya mengantongi gelar D4 Statistik. Setelah selesai kuliah, bisa menjadi pegawai negeri sipil di kementerian, instansi, sampai , lembaga di berbagai daerah.

3. Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN)


IPDN bertujuan sebagai kaderisasi sumber daya manusia dalam pemerintahan, mulai dari tingkat daerah sampai pusat. Di antara fakultasnya yakni Ilmu Politik, Manajemen Pemerintahan, dan Hukum Tata Pemerintahan. Lulusannya memiliki prospek karier di instansi pemerintahan sebagai pegawai negeri sipil atau pejabat daerah.

Baca juga: 10 Universitas Terbaik di Indonesia yang Memiliki Banyak Peminat

4. Sekolah Tinggi Sandi Negara (STSN)


STSN diselenggarakan oleh Lembaga Sandi Negara. Ada dua program studi D4 di sini, yaitu Teknik Persandian dan Manajemen Persandian. Lulusannya akan direkrut sebagai garda terdepan dalam pengamanan siber di Indonesia.

5. Akademi Militer (AKMIL)


Lulusan AKMIL akan mendapatkan gelar D4 Pertahanan atau S.ST.Han, dan menjadi perwira pertama berpangkat Letnan Dua. Ada lima jurusan kuliah yang disediakan, yaitu Manajemen Pertahanan, Administrasi Pertahanan, Teknik Elektronika Pertahanan, Teknik Sipil Pertahanan, dan Teknik Mesin Pertahanan.

Mengapa Sekolah di Jepang Larang Siswinya Dikuncir Kuda?

Mengapa Sekolah di Jepang Larang Siswinya Dikuncir Kuda?

Mengapa Sekolah di Jepang Larang Siswinya Dikuncir Kuda?

Mengapa Sekolah di Jepang Larang Siswinya Dikuncir Kuda? – Baru-baru ini, beberapa sekolah di Jepang melarang para siswa perempuannya untuk menata rambut bersama model kuncir kuda di sekolah. Sekolah ini mengkuatirkan bahwa tengkuk berasal dari siswa perempuan ini dapat menarik gairah seksual berasal dari siswa laki-laki.

Dilansir Wionews, ketetapan ini terungkap melalui Motoki Sugiyama, yang merupakan salah satu mantan guru SMP di Jepang.

“Sekolah ini khawatir anak laki-laki akan menyaksikan anak perempuan yang sama bersama alasan di balik penegakan ketetapan warna busana didalam cuma putih. Saya senantiasa mengkritik ketetapan ini namun dikarenakan kritiknya tidak cukup dan menjadi sangat norma, siswa tidak punyai pilihan tak sekedar menerimanya,” ungkap Sugiyama.

Baca juga: Pendidikan Karakter

Sugiyama lantas menjelaskan bahwa kuantitas sekolah yang udah menerapkan ketetapan ini masih belum diketahui angka pastinya. Karena hingga selagi ini masih belum tersedia information statistik nasional berkaitan akan perihal tersebut.

Sekolah-sekolah di Jepang sendiri memang punyai berbagai ketetapan ketat berkaitan tampilan para siswanya. Seperti warna rambut, aksesoris, make-up, dan juga seragam juga panjang rok untuk siswa perempuan.

Hampir setengah berasal dari sekolah menengah di Tokyo yang berharap para siswanya yang punyai rambut bergelombang dan enggak berwarna hitam untuk menyerahkan sertifikat yang membuktikan jika rambut mereka enggak diubah secara artifisial.

Dari 177 sekolah menengah yang dikelola oleh pemerintah Metropolitan Tokyo, 79 sekolah berharap serifikat ini ditandatangani oleh orang tua masing-masing.

Pengalaman Siswa yang Harus Mengubah Warna Rambut Hingga Gugat Pemerintah Daerah
Beberapa th. lalu juga seorang remaja Jepang sempat menggugat pemerintah area Osaka. Hal ini dikarenakan sekolah area perempuan selanjutnya menuntut pengetahuan terus memaksa dirinya untuk merubah warna rambut cokelatnya menjadi hitam.


Menurutnya, permohonan berasal dari sekolahnya itu enggak masuk akal dikarenakan warna alami berasal dari rambutnya adalah cokelat. Pihak sekolah juga pernah membuktikan jika perempuan yang namanya dirahasiakan itu enggak diperbolehkan masuk sekolah jika rambutnya enggak diwarnai hitam.

Hingga akhirnya, siswa perempuan selanjutnya pun menuruti permohonan pihak sekolah. Namun, ketentuan untuk mewarnai rambutnya menjadi salah besar. Rambut perempuan itu pun menjadi rusak dan iritasi akibat zat kimia yang ditimbulkan berasal dari pewarna rambut.

Siswa selanjutnya dan juga ibunya pun menuntut pemerintah area Osaka yang bertanggung jawab atas sekolah Kaifukan untuk langsung mengganti rugi kerusakan rambutnya sebanyak 2,2 juta yen atau kira-kira Rp 259 juta.

Bukan cuma itu, perempuan ini pun juga memutuskan untuk enggak masuk sekolah. Menanggapi gugatan tersebut, kepala sekolah Kaifukan, enggan berkomentar banyak. Ia cuma menjelaskan bahwa sekolahnya melarang para siswanya untuk mengecat rambut dan semuanya harus berwarna hitam.

Tidak Ada Pembenaran untuk Kekerasan di Dunia Pendidikan

Tidak Ada Pembenaran untuk Kekerasan di Dunia Pendidikan

Tidak Ada Pembenaran untuk Kekerasan di Dunia Pendidikan

Tidak Ada Pembenaran untuk Kekerasan di Dunia Pendidikan – Wakil Ketua MPR RI Ahmad Basarah mengaku prihatin kekerasan demi kekerasan terjadi di dunia pengajaran nasional. Menurutnya, pemerintah semestinya memiliki terobosan baru untuk mencegah persoalan serupa terulang kembali.

Diketahui, sesudah seorang santri Gontor meninggal akibat penganiayaan rekan-rekannya akhir Agustus lalu, kini seorang siswa SMAN 9 Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), dipecat oleh dewan guru akibat menendang dan menganiaya guru perempuan sampai hidungnya berdarah.

“Tidak ada pembetulan apapun untuk segala kekerasan di dunia pengajaran. Masa guru sampai dianiaya muridnya sendiri? Fenomena ini menggambarkan masih ada cara pengajaran yang masih kurang layak dalam dunia pengajaran kita,” ujar Basarah dalam keterangannya, Jumat (23/9/2022).

Anggota Komisi X DPR RI yang membidangi pengajaran ini menunjang keputusan Dewan Guru SMAN 9 Kupang, yang mengeluarkan siswanya akibat tindakan tersebut. Basarah juga menunjang Keputusan Kepala Dinas Pengajaran dan Kebudayaan Provinsi NTT, Linus Lusi, yang pada Kamis (22/9) menunjang keputusan Dewan Guru SMAN 9 Kupang.

Basarah berharap agar Mendikbud-Ristek Nadiem Makarim dan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas bisa melihat kekerasan di dunia pengajaran nasional secara khusus. Sebab ini layak amanat UU No 14 Tahun 2005 seputar Guru dan Dosen Pasal 39 yang menyatakan bahwa pemerintah, pemerintah tempat, masyarakat, organisasi pekerjaan, dan/atau satuan pengajaran semestinya memberikan perlindungan terhadap guru dalam progres tugas.

Di samping itu, Dosen Universitas Islam Malang ini mengusulkan agar Kemendikbud-Ristek dan Kemenag bisa berkoordinasi dengan Mabes Polri untuk memperketat peredaran minuman keras dan narkotika di kalangan pelajar dan pemuda. Pengorbanan, menurutnya, kedua barang tersebut bisa menunjang pemuda bertingkah barbarian.

Baca juga: Opsi Karier Untuk Sarjana Pendidikan

“Pihak sekolah semestinya aktif menjalin komunikasi dengan Polri dan BNN demikian itu mengecup gelagat sekolah mereka dirasuki peredaran minuman keras, apalagi disantroni jaringan Narkoba. Jangan takut melapor demi menjaga kualitas dan masa depan anak bangsa,” katanya.

Ketua Fraksi PDI Sedangkan ini juga mengusulkan pihak sekolah semestinya memperkuat pengajaran budi pekerti di kalangan pelajar dengan cara didik yang menarik dan bahan bacaan yang representatif.

Menurutnya, cara pengajaran nasional yang kini bergantung pada UU No. 20 Tahun 2003 telah baik sebab Pancasila dan UUD NRI Tahun 1945 menjadi dasarnya. Supaya demikian, Doktor bidang aturan lulusan Universitas Diponegoro Semarang ini mengimbau agar Kemendikbud-Ristek dan Kemenag bisa menyajikan materi yang berisi falsafah dan kearifan lokal bangsa Indonesia yang penuh dengan poin-poin kemanusiaan untuk diwujudkan figur siswa di Indonesia.

“Di Indonesia kisah-kisah bijak yang memperkaya budi pekerti amat banyak. Seandainya lebih bervariasi, kisah-kisah figur lainnya bisa juga diambil dari negara lain. Kedua kementerian ini bisa mengumpulkan cerita-cerita figur yang baik, lalu menerbitkannya dengan desain gambar dan visual yang menarik. Sekadar kita sisipkan poin-poin Pancasila di dalamnya, itu akan lebih baik sebab cara itu lebih layak dengan selera generasi milenial ketika ini,” pungkasnya.

dikenal, akhir-akhir ini sejumlah kekerasan di dunia pengajaran, baik oleh murid terhadap murid, oleh guru terhadap murid, atau oleh murid terhadap guru acap kali terjadi di Indonesia. Penganiayaan oleh siswa SMAN 9 Kupang terhadap gurunya, Maria Theresa yaitu kasus terupdate.

Sebelumnya, Eko Hadi Prasetya (43), guru di Pondok Pesantren Al Madina di Samarinda, Kalimantan Timur, tewas dikeroyok dua santrinya pada Februari 2022 usai salat. Kedua santri itu memukuli korban bertubi-tubi sebanyak tujuh kali sampai tewas.

Dana Pendidikan, Perlu Dipersiapkan Dari Awal

Dana Pendidikan, Perlu Dipersiapkan Dari Awal

Dana Pendidikan, Perlu Dipersiapkan Dari Awal

Tiap-tiap tahun, biaya pengajaran selalu naik. Dan kenaikan ini berbeda-beda antar sekolah, mulai dari 8 hingga 25 persen. Itu sebabnya, kian banyak orang tua yang mulai mempersiapkan dana pengajaran si kecil semenjak jauh-jauh hari, pun semenjak si kecil belum lahir.

Annissa Sagita, seorang konsultan yang telah menerima sertifikasi Certified Personal Money Manager (CPMM) di IARFC Indonesia, menyetujui langkah para orang tua yang telah mulai mempersiapkan dana pengajaran si kecil semenjak si kecil belum lahir.

Dia merekomendasikan orang tua untuk membikin investasi rentang menengah hingga rentang panjang sebagai persiapan dana pengajaran si kecil. Melainkan, dalam sebagian situasi, tabungan khusus untuk pengajaran si kecil juga bisa jadi opsi.

“Tabungan untuk dana pengajaran bisa diwujudkan apabila si kecil telah berusia 3 tahun atau lebih dan tabungan hal yang demikian hanya untuk masuk TK. Walaupun untuk masuk SD, SMP, SMA, hingga kuliah lebih bagus menggunakan investasi rentang panjang,” ungkap Annissa dalam sesi kulwap sebagian waktu lalu.

Melainkan Anissaa juga mengingatkan para orang tua supaya memisahkan tabungan pengajaran si kecil dengan tabungan untuk kebutuhan lainnya, supaya tidak terjadi biaya yang berbenturan ke depannya.

Lalu, bagaimana apabila orang tua terlambat dalam menyiapkan dana pengajaran si kecil? Berdasarkan Anissaa, orang tua wajib melihat umur si kecil dan kemudian baru menentukan cara apa yang diaplikasikan untuk menyiapkan dana hal yang demikian.

Baca juga Kurikulum Merdeka Untuk SLB

“Misalkan, dikala ini si kecil berusia 3,5 tahun berarti ia akan masuk SD kurang lebih 2,5 tahun lagi. Dalam rentang waktu hal yang demikian, lebih bagus gunakan deposito, logam mulia atau tabungan emas batangan untuk persiapan dana pengajarannya. Lalu, biaya untuk masuk ke sekolah tingkatan berikutnya, karena masih panjang rentang waktunya, bisa dialokasikan ke reksa dana campuran dan reksa dana saham,” ujarnya.

Jadi, Anissaa menekankan, tabungan pengajaran si kecil memang sebaiknya diaplikasikan untuk rentang pendek, misal untuk persiapan si kecil masuk TK atau masuk SD. Walaupun untuk tingkatan berikutnya, orang tua perlu memiilih investasi rentang panjang.

Siswa SDN Sukaringin 01 Bekasi Belajar di Kelas yang Kondisinya Amat Memprihatinkan

Siswa SDN Sukaringin 01 Bekasi Belajar di Kelas yang Kondisinya Amat Memprihatinkan

Siswa SDN Sukaringin 01 Bekasi Belajar di Kelas yang Kondisinya Amat Memprihatinkan

Beberapa fasilitas pengajaran SDN Sukaringin 01, Kampung Kedung Ringin, Desa Sukaringin, Kecamatan Sukawangi, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat dalam situasi yang memprihatinkan baik bangunan dan sarana belajar selama bertahun-tahun.

Bagaimana tak, bangunan sekolah hal yang demikian tampaknya belum pernah direnovasi. Ditambah plafon bangunan sekolah yang diterapkan untuk murid-murid kelas 1-6 yang terbuat dari triplek dan kayu telah nampak lapuk sebab dimakan usia.

Tidak cuma itu, dinding dan meja belajar bahkan juga banyak yang rusak dan bolong sehingga membuat para siswa tak nyaman mengikuti kesibukan belajar mengajar.

“Kerusakan plafon dinding dan meja belajar telah berlangsung selama bertahun-tahun. Atap genteng yang bocor dikala hujan membuat si kecil-si kecil yang sedang belajar terkena air hujan,”kata Humaidi Guru Kelas 6, Sabtu (17/9/2022).

Baca juga Peraih IPK Sempurna Di Universitas Indonesia

Hampir semua ruangan kondisinya memprihatinkan. Namun, selama bertahun-tahun pihak Dinas Pengajaran Kabupaten Bekasi cuma dapat memberikan komitmen, tapi hingga tahun ini komitmen hal yang demikian tak kunjung terealisasikan.

“Malah kerusakannya kini kian parah, hampir semua ruangan kelas di sekolah ini mengalami kerusakan. Kondisi ini membuat siswa semestinya terganggu aktifitas belajar mengajarnya kalau musim hujan tiba,” tuturnya.

Sementara itu, pihak guru sekolah mengaku telah melaporkan kejadian hal yang demikian pada Dinas terkait, dan kerap dilakukan rapat musrembang di balai desa sukaringin tapi tak pernah terealisasikan.

“Pihak desa bahkan seolah olah tutup mata dengan situasi bangunan sekolah hal yang demikian dan berharap ada tindak lanjut dan kepedulian dari pemerintah setempat,”imbuhnya.

Namun hingga kini pihak sekolah cuma dijanjikan dan belum ada realisasi. Dalam hal ini Dia sungguh-sungguh berharap ada perhatian dan pembenaran dari Dinas terkait.

“Berkali-kali disurvei, tapi dikala ini kapan berharap direhab belum tahu kejelasannya, telah sebagian kali mengajukan tapi belum ada penanganan,” tutupnya.

Sekolah Berkecerdasan Majemuk

Sekolah Berkecerdasan Majemuk

Sekolah Berkecerdasan Majemuk

Bukan eranya lagi sebuah lembaga pengajaran menganggap siswa bagaikan kertas kosong yang bebas untuk ditulisi apa saja segala gurunya. Atau meminjam istilah Paulo Freire, mengaplikasikan “gaya bank” (banking of education system) yang selama ini menjadi patokan serta referensi dalam pelaksanaan pengajaran nasional.
Bahkan sangat mungkin contoh banking of education system masih saja dipraktikkan oleh sebagian sekolah-sekolah bertaraf unggulan. Secara tidak segera, sekolah unggulan inilah yang akan mencetak manusia-manusia menjadi patut seragam. Meskipun, salah satu ikhtiar untuk meningkatkan kwalitas kwalitas pengajaran adalah dengan meningkatkan kwalitas belajar mendidik bagi tiap-tiap kemampuan siswa yang pelbagai.

Dalam ringkasan UU Sisdiknas Tahun 2003 ditegaskan bahwa pengajaran adalah usaha sadar dan terjadwal untuk mewujudkan suasana belajar dan pelaksanaan pembelajaran agar peserta ajar secara aktif memaksimalkan potensi dirinya untuk memiliki daya spiritual keagamaan, pengaturan diri, kepribadian, kecerdasan, budi pekerti mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Kecil ajar dan pelaksanaan pembelajaran adalah dua dimensi berbeda yang perlu disinkronisasikan secara holistik dan terpadu.

Secara makro, keberhasilan pengajaran Indonesia sangat diatur oleh jutaan lembaga mikro bernama “sekolah”, yang tidak lain adalah “jantung” keberlangsungan untuk kehidupan ke depan. Bagus buruknya individu, keluarga, masyarakat, dan negara diprediksi –salah satunya– adalah hasil dari pelaksanaan belajar (baca: pembelajaran) adalah sekolah. Pendidikan menjadi salah satu modal bagi seseorang agar dapat sukses dan kapabel meraih kesuksesan dalam kehidupannya (Susanto, 2005).

Baca juga Pembentukan Karakter Anak

Kecerdasan

Tiap individu memiliki sistem yang unik untuk menuntaskan permasalahan yang dihadapinya. Kecerdasan bukan hanya dipandang dari poin yang diperoleh seseorang. Kecerdasan adalah kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk mengamati suatu permasalahan, lalu menuntaskan permasalahan tersebut atau membikin sesuatu yang dapat berkhasiat bagi orang lain.

Kecerdasan majemuk (multiple intelligences), menurut Gardner (1983) mencakup sembilan kecerdasan. Adalah linguistik, matematis, visual, musikal, kinestetik, interpersonal, intrapersonal, naturalis, dan eksistensial. Teori tersebut didasarkan atas pemikiran bahwa kemampuan intelektual yang dievaluasi via tes IQ sangatlah terbatas, sebab tes IQ hanya menekan pada kemampuan akal (matematika) dan bahasa.

Lewat multiple intelligences, kesibukan mendidik adalah ibarat air yang mengisi ruang-ruang murid. Melainkan saat murid diibaratkan bagaikan botol, maka seorang pendidik dituntut untuk kapabel menyesuaikan seperti botol; dan saat murid ibarat seperti gelas, maka seorang pendidik juga dituntut dapat mencontoh seperti gelas. Adalah, mengedepankan dan menumbuhkembangkan sikap kritis dan kreatif peserta ajar.

Peserta ajar bukan serta-merta dipahami sebagai obyek tersendiri yang patut digarap dan diisi. Peserta ajar patut diterima sebagai subjek yang dilengkapi kemampuan untuk merubah realitas ke arah yang lebih bagus. Dengan demikian, sekolah berwawasan multiple intelligences secara umum dapat diartikan sebagai sekolah yang mengaplikasikan pelaksanaan pembelajaran yang memberi “ruang gerak” bagi tiap-tiap individu siswa untuk memaksimalkan potensi kecerdasannya.

Siswa dituntut agar dapat belajar secara enjoy, tidak merasa terpaksa, dan memiliki motivasi yang tinggi. Pengembangan multiple intelligences siswa adalah kunci utama untuk kesuksesan masa depan siswa. Lewat pelbagai pertimbangan dan mengamati sistem belajar apa yang paling terlihat dari masing-masing individu, maka seorang pendidik/ayah dan ibu diharapkan dapat bertindak secara bijaksana dan bijaksana dalam memilih gaya mendidik yang cocok dengan gaya belajar siswa.

Kreativitas

Pada hakikatnya, pembelajaran sekolah berwawasan multiple intelligences dapat juga dimaknai sebagai mediasi untuk membiarkan buah hati ajar untuk senantiasa kreatif. Tentunya, kreativitas yang dibangun adalah wujud ke-kreatif-an yang dapat menyokong terhadap keberlangsungan pelaksanaan pembelajaran dengan mewujudkan sasaran prestasi akademik yang membanggakan.

Pelaksanaan pembelajaran tidak sekedar permasalahan sistem belajar, tetapi menyangkut sistem terbaik bagi seseorang untuk menerima dan memahami isu. Pada lazimnya orang belajar dengan membaca, tetapi orang-orang tertentu dapat memahami lebih bagus dengan sistem mendengar atau mengamati.

Ada juga yang bersuka ria mengobrol dengan orang lain, tetapi ada yang lebih cepat paham dengan sistem mengamati gambar atau bagan. Dengan sistem seperti itu berarti tidak ada buah hati yang tidak berbakat. Semua pasti punya talenta walaupun masing-masing buah hati dapat berbeda bakatnya. Kecil ajar dikatakan berbakat saat kreatif dan produktif.

Pelaksanaan pengajaran patut memberi daerah terhadap inside-out, pelaksanaan pemberdayaan diri, berdasar paradigma, karakter, dan motif sendiri. Di dalamnya, pembelajaran adalah komunikasi keberadaan manusiawi yang otentik terhadap manusia, untuk dimiliki, dilanjutkan, dan disempurnakan. Hasil dari pembelajaran yang dikehendaki mewujudkan buah hati ajar sebagai penemu, desainer yang kreatif dalam bidang sains, art, dan teknologi menjadi pemimpin yang inovatif, punya jiwa entrepreneur yang kuat, dan menjadi pribadi yang saleh terhadap sesama manusia, alam, dan Maha.

Hakikat dari tujuan sekolah berwawasan multiple intelligences adalah untuk menumbuhkan motivasi belajar buah hati ajar agar berkembang potensinya secara utuh. Lewat sistem pembelajaran pendekatan multiple intelligences ini sekolah dialamatkan agar tidak terjadi kesenjangan kecerdasan pada pribadi buah hati ajar.

Kemandirian

Guru bukan satu-satunya pemegang otoritas pengetahuan di kelas. Kecil ajar dapat diberi kemandirian untuk belajar dengan memanfaatkan pelbagai sumber belajar yang memadai, diberi peneguhan dan motivasi. Jadi, tugas guru adalah mengasah kreativitas buah hati ajar agar multiple intelligences yang mereka miliki dapat tumbuh dan berkembang cocok yang diharapkan.

Idealnya, pengajaran mencakup tiga hal utama adalah fakta, konsep dan poin. Fakta-fakta yang dieksplorasi patut dapat dikonseptualisasi untuk melahirkan poin-poin yang dapat dipakai dalam kehidupan. Meningkatnya tantangan kehidupan di masa depan, menuntut pengembangan teori dan siklus belajar secara berkesinambungan. Pendidikan ini, siklus belajar dapat dikembangkan dalam sebuah sistem pembelajaran menetapkan terbentuknya karakter yang diharapkan pada diri siswa.

Pada dasarnya pengajaran adalah pelaksanaan penyadaran (consientization) dan pembudayaan (culturation) –meminjam terminologi Paulo Freire– yang berjalan terus-menerus demi mewujudkan sebuah peradaban dan tatanan kehidupan kemanusiaan yang lebih adil. Pendidikan akan menjadi diskursus tandingan (counter discourse) terhadap diskursus atau wacana yang menghegemoni dan menindas agar arus perubahan senantiasa terjaga dan terjadi dalam segala aspek kehidupan manusia.